Mengupas Sejarah Bukit Terindah Gunung Sinai

Gunung Sinai,( di kenal juga dengan nama Jabal Musa atau dalam bahasa arab جبل موسَى) merupakan sebuah gunung yang terletak di semenanjung Sinai yang berada di Mesir, dengan memiliki tingginya 1.185 meter dan berada di barisan pegunungan sebelah selatan semenanjung tersebut. mesir menjadi salah satu tempat bersejarah bagi kaum muslim. Tempat ini di percayaai sebagai tempat Nabi Musa AS yang menarima Wahyu berupa 10 perintah Allah SWT yang juga di kenal dengan sebutan The ten Commanndement.

Sepuluh perintah Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa itu kemudian termaktub dalam Kitab Taurat yang kala itu diperuntukkan bagi umat-umat terdahulu, jauh sebelum diwahyukannya Al-Quran kepada Rasulullah SAW.

Mengupas Sejarah Bukit Terindah Gunung Sinai

Mengupas Sejarah Bukit Terindah Gunung Sinai

Kini, Gunung Sinai menjadi salah satu tujuan wisata penting di Mesir, selain Piramid, Sphinx dan tempat-tempat lain yang menjadi saksi sejarah Yahudi, Nasrani dan Islam.

Gunung Sinai dapat ditempuh dari wilayah Ismailia yang terletak di sisi utara terusan Suez dengan menggunakan transportasi darat, seperti bus pariwisata. Perjalanan dapat ditempuh kurang lebih 8 sampai 10 jam.

Di kaki Gunung Sinai, tak ada pemukiman penduduk. Yang ada hanya satu bangunan kuno, yakni Biara St. Catherina. Konon, biara ini dibangun pada tahun 530 Masehi oleh Kaisar Romawi Yustianus I. Meski telah ada sejak berabad-abad lalu, bangunan ini tetap berdiri kokoh hingga kini. Sekarang biara ini berfungsi sebagai tempat penginapan para turis yang berziarah ke Gunung Sinai.

Tinggi Gunung Sinai kurang lebih 2.500 meter di atas permukaan laut. Gunung ini memiliki dua puncak besar tinggi menjulang yang disebut Rasus Safsafah dan Jabal Musa.

Jalur yang harus ditempuh untuk mendaki Gunung Sinai terbilang sulit. Sepanjang pendakian para wisatawan akan menemui jalan yang curam, kecil, penuh bebatuan dengan posisi nyaris tegak lurus.

Meski sulit, kebanyakan wisatawan yang datang ke sini tak ingin melewatkan Puncak Sinai. Karena dari Puncak Sinai, mereka dapat menikmati indahnya panorama seantero Mesir. Di sebelah timur akan tampak hamparan luas pasir Gurun Sinai, sedangkan di sisi selatan dapat terlihat bentangan Semenanjung Sinai dengan kota wisata elit Sharm el-Sheikh yang dibatasi birunya Laut Arab. (Ikuti Program Umroh Plus Cairo)

”Demi buah tin dan zaitun. Demi (Bukit) Thursina. Dan, demi negeri yang aman ini.” (Attin ayat 1-3).

Tiga ayat di atas merupakan sumpah Allah SWT. Kalimat atau kata-kata sumpah Allah juga terdapat pada beberapa surah dan ayat lain dalam Alquran.

Memahami ayat tersebut, ternyata tidaklah mudah. Berbagai pertanyaan muncul mengenai sumpah Allah tersebut. Apa keistimewaan buah tin dan buah zaitun, di mana sesungguhnya keberadaan Thursina, dan di mana negeri yang aman itu. (baca juga : Tips umroh untuk orang yang sudah Lansia)

Sejumlah ahli tafsir pun berbeda pendapat dalam menafsirkan ketiga ayat di atas, misalnya Thursina. Hampir semua ahli tafsir menyepakati bahwa Bukit Thursina adalah bukit saat Musa menerima wahyu dari Allah. Namun, mereka berbeda pendapat dalam memutuskan letak Bukit Thursina tersebut. Setidaknya, ada tiga versi tentang Bukit Thursina. Ada beberapa versi yang menjelaskan :

Versi Pertama

Sejumlah ahli tafsir meyakini bahwa Bukit Thursina sebagaimana di sebutkan dalam surah At-tin berada di wilayah Mesir yang lokasi nya berada di Gunung Munajah, di sisi Gunung Musa. Lokasi ini di kait kan dengan keberadaan Semenanjung Sinai. Pendapat ini di dukung oleh Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal al-Qur’an. Menurut Quthb, Thursina atau Sinai itu adalah gunung tempat Musa di panggil berdialog dengan Allah SWT.

Dalam versi ini pula, banyak pihak yang meyakini bahwa daerah Mesir adalah tempat yang di sebut kan sebagai Thursina. Sebab, di daerah ini, terdapat sebuah patung anak lembu. Peristiwa ini di kait kan dengan perbuatan Samiri, salah seorang pengikut Nabi Musa yang berkhianat.

Dalam surah Al-A’raf ayat 148, di sebut kan bahwa ”Kaum Musa, setelah kepergian (Musa ke Gunung Sinai), mereka membuat patung anak sapi yang bertubuh dan dapat melenguh (bersuara) dari perhiasan (emas). Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjuk kan jalan kepada mereka? Mereka menjadikan nya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang yang zalim.”

Mengupas Sejarah Bukit Terindah Gunung Sinai

Mengupas Sejarah Bukit Terindah Gunung Sinai

Ketika kaum Bani Israil keluar dari tanah Mesir, mereka banyak membawa perhiasan masyarakat Mesir (berupa emas dan perak). Para wanita Bani Israil telah meminjam nya dari mereka untuk di pakai kan sebagai hiasan. Perhiasan tersebut dibawa ketika Allah SWT memerintahkan mereka keluar dari Mesir. Mereka kemudian melepaskan perhiasan tersebut karena telah di haram kan. Setelah Musa pergi ke tempat perjumpaan dengan Rabb-nya, Samiri mengambil perhiasan itu dan menjadikan nya sebagai patung anak lembu yang bisa mengeluar kan suara melenguh jika angin masuk ke dalam nya. Mungkin, segenggam tanah yang dia ambil dari jejak utusan (Jibril) membuat patung anak lembu tersebut dapat melenguh.

Versi Kedua

Mengutip pendapat Muhammad bin Abdul Mun’im al-Himyari, dalam buku nya Al-Raudh al-Mi’thar fi Khabari al-Aqthar, Syauqi Abu Khalil dalam Atlas Hadis, menyatakan bahwa Thursina adalah bukit yang terletak di barat daya negeri Syam. Di sini, Allah SWT berbicara secara langsung dengan Nabi Musa AS.

Sementara itu, dalam al-Qamus al-Islam, kata ‘Thursina’ adalah gunung yang tandus atau gersang. Nama bukit ThurSina di sebut kan dalam Al-quran sebagaimana surah At-tin ayat 1 dan surah Almu’minun ayat 20. Ar-Razi dalam tafsir nya menyebut kan, banyak dalil yang menguatkan pendapat bahwa yang di maksud adalah Thuur Siniin adalah bukit di Baitul Maqdis.

Di antara pendapat yang di sebut kan Ar-Razi adalah mufassir seperti Qatadah dan al-Kalibi yang menyatakan kata Thuur Siniin (Sinai) adalah bukit yang berpepohonan dan berbuah-buahan. pakah ini adalah Sinai, Mesir? ”Kalau memang ya, tentu tidak seorang pun yang membantah nya,” kata Sami.

Menurut Sami, justru yang di maksud dalam ayat itu adalah Thur Sina, bukit di Baitul Maqdis dan Balad al-Amin adalah Makkah. Berikut argumentasinya. Allah SWT berfirman, ”Dan, pohon kayu yang keluar dari Thursina (pohon zaitun) yang menghasilkan minyak dan menjadi makanan bagi orang-orang yang makan.” (Almu’minun ayat- 20).

Ayat ini, kata Sami, mengikat dan menghimpun dengan kuat antara ‘Thursina’ dan hasil bumi serta tumbuh-tumbuhan penghasil minyak bagi orang yang makan. Sementara itu, lanjut nya, di Sinai (Mesir) tidak ada pohon zaitun yang mampu menghasil kan buah, apalagi mengeluarkan minyak.

Menurut dia, ayat 20 surah Almu’minun dan ayat 1-3 surah At-tin itu justru merujuk pada tanah suci di Palestina. Di Palestina, jelas Sami, terdapat banyak pohon zaitun yang terus berproduksi di sepanjang tahun sehingga penduduk di sekitar Baitul Maqdis menamakan nya dengan ”Bukit Zaitun” dan Allah SWT telah berseru kepada Musa di tempat yang di berkahi di sisi bukit.

”Maka, tatkala Musa sampai ke (tempat) api, di serulah Dia (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang di berkahi dari sebatang pohon kayu.” (Al-qashash ayat – 30).

Hal yang sama juga di ungkap kan Oleh Ustaz Shalahuddin Ibrahim Abu ‘Arafah, seorang ulama asal Palestina. Menurut nya, Bukit Thursina adalah tempat yang di berkahi. Dan, tempat yang di berkahi itu adalah Palestina sebagaimana surah Al-Isra ayat 1 yang menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Sekarang banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke tempat ini, menjadi objek wisata yang faforit bai wisatawan asing.